THE BELL: PANGGILAN UNTUK MATI, ikon baru untuk genre horor yang siap meneror 7 Mei 2026

Film The Bell: Panggilan untuk Mati Hadirkan Penebok, Ikon Horor Baru yang Siap Menghantui Tahun Ini.

Film dari kolaborasi rumah produksi MBK Productions dan Sinemata Productions yang

menghadirkan Penebok sebagai ikon horor baru yang lahir dari folklore lokal.


Jakarta, 30 April 2026 – Menjelang penayangannya di bioskop pada 7 Mei 2026, film horor

The Bell: Panggilan untuk Mati menghadirkan teror baru yang mengangkat kekuatan folklore

lokal. Hasil kolaborasi Multi Buana Kreasindo dan Sinemata Productions ini menawarkan

pendekatan berbeda dengan menghidupkan sosok Penebok sebagai ikon horor yang

mencekam dan siap menghantui tahun ini.

Di tengah tren film horor Indonesia yang terus mendominasi industri perfilman, The Bell:

Panggilan untuk Mati hadir dengan menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar ketakutan

instan. Film ini mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi, menghadirkan

pengalaman horor yang tidak hanya menegangkan secara visual, tetapi juga memiliki akar

budaya yang kuat. Melalui sosok Penebok, film ini membangun atmosfer yang berangkat dari

mitos dan kepercayaan masyarakat, sekaligus memperkuat identitas cerita lokal di tengah

arus globalisasi konten.

Film ini bercerita tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu

mengurung roh-roh jahat, namun menjadi awal teror ketika dicuri oleh sekelompok anak

muda demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut membangkitkan sesuatu yang

seharusnya tetap tersembunyi, membawa ancaman yang perlahan semakin nyata. Di tengah

situasi yang kian mencekam, Danto (Bhisma Mulia) dan Airin (Ratu Sofya) ikut terseret dalam rangkaian peristiwa tersebut. Lebih dari sekadar menghadirkan ketakutan, The Bell: Panggilan untuk Mati menawarkan

relevansi dengan realitas masa kini. Fenomena generasi digital yang haus akan viralitas

menjadi salah satu lapisan cerita yang membuat film ini terasa dekat dengan penonton.

Keputusan para karakter yang menjadikan hal mistis sebagai konten hiburan menjadi refleksi

atas batas yang semakin kabur antara dunia nyata dan sensasi digital, sekaligus menghadirkan

konsekuensi yang tidak terduga.

Sutradara The Bell, Jay Sukmo membawa pendekatan yang cukup berbeda dalam The Bell:

Panggilan untuk Mati dengan menghadirkan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan tiap

periode waktu dalam cerita. Cara ini membuat perpindahan waktu terasa lebih jelas sekaligus

memberi pengalaman visual yang tidak biasa bagi penonton. Lewat pendekatan tersebut, JaySukmo juga ingin menghadirkan teror yang lebih halus dan terasa, bukan sekadar mengandalkan kejutan sesaat. “Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment yang mungkin belum ada di film horor lain,

seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda untuk menggambarkan setiap

periodenya,” ujarnya. Pendekatan ini membuat filmnya terasa lebih imersif. Melalui film ini, sosok Penebok diperkenalkan sebagai ikon horor baru yang berakar dari

folklore Indonesia. Tidak sekadar menjadi elemen teror, Penebok merepresentasikan kekuatan

mitos lokal yang jarang diangkat ke layar lebar. Dengan visual yang khas dan latar cerita

yang kuat, Penebok dihadirkan sebagai simbol ketakutan yang berbeda, bukan hanya

menyeramkan, tetapi juga memiliki kedalaman budaya. Sebagai aktor senior Indonesia, Mathias Muchus menilai bahwa kehadirannya dalam The

Bell: Panggilan untuk Mati juga berkaitan dengan upaya film ini dalam mengangkat kekuatan

budaya lokal melalui sosok Penebok. “Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga

memperkenalkan Penebok sebagai bagian dari mitos yang hidup di masyarakat. Bagi saya, ini

menarik karena horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tetapi memiliki akar budaya

dan makna yang kuat, sesuatu yang penting untuk dihadirkan agar penonton tidak hanya

merasa takut, tetapi juga memahami,” ujarnya.

Keunikan inilah yang menjadikan The Bell: Panggilan untuk Mati sebagai tontonan yang

layak dinantikan. Di tengah banyaknya film horor dengan pola yang serupa, film ini

menghadirkan pendekatan yang lebih segar dengan menggabungkan unsur budaya, teror, dan

isu kontemporer. Penonton tidak hanya diajak untuk merasakan ketegangan, tetapi juga

menyelami cerita yang memiliki makna dan relevansi. Film The Bell: Panggilan untuk Mati tidak hanya mengandalkan elemen teror, tetapi juga

mengangkat sejumlah isu yang dekat dengan realitas masyarakat saat ini. Salah satu isu

utama yang diangkat adalah fenomena obsesi terhadap konten dan viralitas di era digital,

di mana generasi muda kerap menjadikan apa pun sebagai bahan hiburan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Tindakan mencuri benda keramat demi konten dalam film ini menjadi refleksi dari kecenderungan tersebut, sekaligus kritik terhadap budaya sensasi yang semakin ekstrem.

Selain penayangannya di dalam negeri, The Bell: Panggilan untuk Mati juga akan memperluas jangkauan internasional dengan berpartisipasi dalam Cannes Film Market yang berlangsung pada 12–20 Mei 2026, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan film The Bell: Panggilan untuk Mati ke sineas global.Tonton The Bell: Panggilan untuk Mati di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026, dan jadilah penonton yang tidak hanya menikmati keseruannya, tetapi juga memahami kisahnya! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film ini di Instagram @thebell.film


SINOPSIS

Sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri

oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru

membebaskan Penebok—entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun.

Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu,

meninggalkan jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror menyebar ke

warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian—Penebok datang untuk

menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.


Cast dan Filmmaker

Eksekutif Produser : Budi Yulianto, Avesina Soebli

Produser : Aris Muda, Rendy Gunawan

Sutradara : Jay Sukmo

Penulis : Priesnanda

Co-Produser : Agus Suhardi

Lini Produser : Ipunk Purwono

DoP : Indra Suryadi

Cast : Bhisma Mulia (Danto), Ratu Sofya (Airin), Mathias Muchus (Tuk

Baharun), Shaloom Razade (Isabel), Septian Dwi Cahyo (dr. Usman), Givina Lukita Dewi

(Saidah), Maulidan Zuhri (Hanafi).

Produksi : SINEMATA BUANA KRESINDO/ 2026


Tentang Sinemata Buana Kresindo

Sinemata Buana Kresindo merupakan kolaborasi dari dua perusahaan kreatif, yaitu Multi

Buana Kreasindo (MBK Productions) dan Sinemata Productions, yang menyatukan kekuatan

di bidang pengembangan konten, produksi, hingga distribusi film. Berangkat dari

pengalaman MBK dalam storytelling dan strategi komunikasi berbasis konten, serta

perjalanan Sinemata sebagai agensi marketing film yang berkembang menjadi produser dan

distributor, kolaborasi ini hadir dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam industri

perfilman. Melalui Sinemata Buana Kresindo, keduanya berkomitmen menghadirkan karya

yang relevan, kuat secara cerita, serta mampu menjangkau audiens yang lebih luas melalui

kolaborasi strategis di industri kreatif Indonesia.

Tentang OST Film “Penuh Kenangan” merupakan original soundtrack (OST) dari film The Bell: Panggilan untuk Mati yang dibawakan oleh Egha De Latoya. Lagu ini menghadirkan nuansa emosional

yang kuat, mengangkat tema kesetiaan, harapan, dan keyakinan dalam cinta di tengah

ketidakpastian. Tidak hanya sebagai pelengkap film, “Penuh Kenangan” juga berperan

memperkuat narasi dan pengalaman emosional penonton melalui lirik yang dekat dengan

kehidupan sehari-hari, aransemen yang menyentuh, serta karakter vokal yang penuh

penghayatan. Didistribusikan melalui berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music,

YouTube Music, dan Langit Musik, lagu ini menyasar penikmat film dan musik digital,

khususnya generasi muda. Promosinya didukung oleh strategi digital yang terintegrasi, mulai

dari kolaborasi dengan kampanye film, aktivasi media sosial, hingga kerja sama dengan

influencer. Diproduksi bersama RPM Music sebagai label yang berpengalaman di industri musik digital,

“Penuh Kenangan” juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai brand dan partner

melalui bentuk sponsorship, campaign, serta aktivasi kreatif lainnya. Kehadiran lagu ini

diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat antara musik, film, dan audiens secara

lebih luas.

***

Redaksi Media : KOBOY MOVIE THEATER
Instagram : @koboymovietheater
Website : koboymovietheater.blogspot.com
Email : koboymovietheater@gmail.com
Reporter : Kusuma Lesmana


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTARUHAN THE SERIES 3, Banyak bintang baru yang terlibat di series ini

TAK KENAL MAKA TAARUF, Film yang menyampaikan banyak pesan moral bahwa mencari pasangan dengan cara di ridai Tuhan SWT

DUSUN MAYIT, Kisah nyata dari thread Jeropoint yang terjadi di Gunung Werilang