PESUGIHAN SATE GAGAK, Kolaborasi Duet Dono Pradana dan Etienne Caesar yang berhasil membuat satu studio tertawa karena aksi para komedian

 Bukan Film Horor, “Pesugihan Sate Gagak” Siap Jadi Obat Manjur Bikin Tertawa Satu Indonesia Aksi ‘Trio Gagak’ Bikin Ngakak Mulai 13 November 2025 Di Bioskop


Jakarta, 5 November 2025
-- CAHAYA PICTURES & BASE ENTERTAINMENT mengundang Anda untuk berhadir di PRESS SCREENING & CONFERENCE 

"PESUGIHAN SATE GAGAK"

Kolaborasi bersama PK Films, Arendi, Laspro, IFI Sinema dan Anami Films

A Film By Dono Pradana dan Etienne Caesar

Berlokasi di Epicentrum XXI


Dihadiri Oleh

Ardit Erwandha

Yono Bakrie

Benidictus Siregar 

Yoriko Angeline

Nunung

Arief Didu

Arif Alfiansyah

Firza Valaza

Aoura Lovenson Chandra - Produser

Fauzar Nurdin - Produser

Etienne Caesar - Sutradara

Dono Pradana - Sutradara

Nuugro Agung - Penulis Skenario Cerita tentang pesugihan sering kali identik dengan tumbal manusia dan kisah yang mencekam. Namun, film terbaru produksi Cahaya Pictures dan BASE Entertainment, berkolaborasi dengan PK Films, Arendi, Laspro, IFI Sinema, dan Anami Films, berjudul Pesugihan Sate Gagak, justru mengemas tema itu dalam balutan komedi horor super ringan yang menjadi obat penghilang stres buat penonton. Hidup susah, utang menumpuk, dan cinta terancam gagal. Itulah nasib trio gagak, Anto (Ardit Erwandha), Dimas (Yono Bakrie), dan Indra (Benidictus Siregar) yang menjadi awal kisah Pesugihan Sate Gagak. Mereka pun resmi capek miskin! Selain dibintangi oleh Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Benidictus Siregar sebagai pemain utama, film ini juga didukung oleh Yoriko Angeline, Nunung, Arief Didu, Firza Valaza, serta diramaikan Arif Alfiansyah, Ence Bagus, Niniek Arum, Akbar Kobar dan Ciaxmen. Pesugihan Tanpa Tumbal, Demit Sakau Sate!Jika biasanya makhluk halus dalam cerita pesugihan mengejar nyawa manusia, di film ini mereka malah antre layaknya pembeli setia warung. Ritual telanjang, hantu-hantu ketagihan, dan kekacauan absurd di warung sate menjadi sumber tawa sepanjang film. Anto butuh mahar puluhan juta demi menikahi kekasihnya, Dimas ingin menolong usaha ibunya, dan Indra terjerat pinjol sampai leher. Dalam keputusasaan itu, mereka menemukan buku mantra pesugihan kuno peninggalan kakek Indra. Dari situ lahir ide paling gila: coba pesugihan tanpa tumbal, cukup jual sate dari daging burung gagak ke demit! Namun bukannya berakhir bahagia, para demit justru ketagihan sate dan terus datang menagih. Aksi Kocak Trio Gagak & Pengalaman Jadi Pemeran Utama Kekuatan film ini bertumpu pada tiga komika ternama: Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Benedictus Siregar yang berperan sebagai Trio Gagak. Untuk pertama kali, ketiganya tampil sebagai pemeran utama dalam satu film layar lebar. Chemistry alami mereka memunculkan dinamika persahabatan yang cair dan komedi yang spontan membuat setiap adegan terasa hidup, lucu, sekaligus hangat di tengah absurditas cerita. Terlebih beradu akting dengan kondisi telanjang menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain. “Berakting komedi sudah biasa saya lakukan di film-film sebelumnya, tapi berakting komedi sekaligus horor sambil telanjang, sepertinya cuma akan terjadi di film ini,” ujar Ardit Erwandha, pemeran Anto. “Ini jadi tantangan sekaligus cara saya keluar dari zona nyaman. Buat kami bertiga, ini bentuk totalitas dan keseriusan sebagai aktor.” Yono Bakrie menambahkan bahwa ini adalah kesempatan langka baginya untuk dipercaya sebagai pemeran utama. Sebelumnya, ia lebih sering tampil sebagai pemeran pendukung atau cameo. Ia juga mengakui bahwa cerita film ini sangat dekat dengan pengalaman hidupnya di masa lalu. “Nyari duit susah itu memang benar adanya. Sebelum merantau ke Jakarta, saya pernah mengalami berbagai kesulitan ekonomi dan harus membantu orang tua agar bisa bertahan hidup. Kedekatan saya dengan cerita ini sangat membantu saya dalam mendalami karakter Dimas”, kata Yono. Sementara itu, Benidictus Siregar mengakui bahwa proyek ini terasa sangat spesial baginya. Dari berbagai peran yang pernah ia mainkan, Beni lebih sering tampil dalam genre komedi. Namun, di film ini ia justru ditantang untuk menampilkan sisi drama yang jarang ia eksplor sebelumnya. “Meskipun unsur komedinya cukup kuat dan saya juga banyak bertemu dengan para Komika, di film ini ternyata saya harus menampilkan adegan drama — sesuatu yang jarang saya lakukan sebelumnya. Itu yang membuat Pesugihan Sate Gagak jadi salah satu proyek yang paling spesial sepanjang karir berakting saya”, ungkap Beni. Debut Penyutradaraan Dua Sutradara Berbakat Pesugihan Sate Gagak menjadi panggung debut penyutradaraan layar lebar bagi Etienne Caesar (EC) dan Dono Pradana (Dono). Sebelumnya, Etienne telah berpengalaman sebagai asisten sutradara di berbagai produksi film, sementara Dono dikenal sebagai kreator konten sekaligus komika asal Surabaya. Keduanya membawa kekuatan tersendiri dalam menggarap film ini. Dengan bekal pengalamannya, Etienne Caesar berhasil menghadirkan rangkaian adegan yang membekas dan mampu mengarahkan para pemain untuk tampil maksimal terutama keluar dari zona nyaman mereka di ranah komedi menjadi drama. “Salah satu adegan yang menurut saya luar biasa adalah adegan drama yang dimainkan oleh Trio Gagak. Kemampuan tiga aktor itu keluar dari zona nyaman mereka patut diapresiasi. Bagi saya, adegan yang baik tidak hanya lahir dari komposisi teknis yang mumpuni, tetapi juga dari permainan emosi para pemainnya,” jelas EC, yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Ernest Prakasa. Melengkapi visi penyutradaraan EC, Dono Pradana berangkat dari sensitivitasnya dalam membaca keresahan banyak orang terhadap tekanan hidup, utang, dan keinginan untuk cepat sukses. Melalui film ini, Dono ingin menghadirkan potret sosial dengan cara yang ringan, dekat, dan tetap menghibur. “Buat saya, film ini bukan tentang menghalalkan pesugihan, tapi tentang bagaimana orang bisa tersesat ketika terlalu tertekan oleh hidup. Lewat pendekatan komedi, kami ingin mengajak penonton melihat realitas itu dengan cara yang ringan dan mudah. Hal yang ringan dan mudah dalam hidup ini ya tertawa bersama,” tutur Dono. Relevansi Nyata Potret Masyarakat Meski dikemas dengan humor yang ngawur dan absurd, Pesugihan Sate Gagak sejatinya menyoroti realitas sosial yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang Indonesia. Desakan ekonomi, tekanan sosial untuk terlihat sukses, hingga mentalitas “yang penting cepat kaya” menjadi latar yang relevan dan mudah dikenali penonton. “Premis tentang para demit yang ketagihan sate, dipadukan dengan ritual absurd yang mengharuskan pesertanya telanjang, menjadi alasan utama kenapa kami di Cahaya Pictures begitu jatuh cinta pada cerita ini. Ada keabsurdan, kegilaan, namun juga jadi potret sosial masyarakat sekarang. Ini pure bukan film horor, tapi sebuah feel good movie yang akan mudah disukai banyak orang. Kami berharap film ini bukan cuman sebagai film, tapi juga punya pesan positif dan jadi optimisme di tengah kesulitan ekonomi yang dialami banyak orang”, papar Aoura Lovenson, produser film Pesugihan Sate Gagak.” Selain itu, film ini harapannya bisa menyadarkan penonton jika sesuatu yang niatnya benar namun dilakukan dengan cara yang salah maka akan berakhir tidak baik. Maka, cara instan yang salah seharusnya diganti dengan kerja keras dan rasa syukur. Pesugihan Sate Gagak akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 13 November 2025, dan pembelian tiket untuk hari pertama sudah bisa dilakukan mulai 9 November 2025.

Awas Ketagihan!

***

Redaksi Media : KOBOY MOVIE THEATER
Instagram : @koboymovietheater
Website : koboymovietheater.blogspot.com
Email : koboymovietheater@gmail.com
Reporter : Kusuma Lesmana



Komentar

Postingan populer dari blog ini

JODOH 3 BUJANG, Jourdy Pranata butuh pengorbanan cinta demi keluarga

TAK KENAL MAKA TAARUF, Film yang menyampaikan banyak pesan moral bahwa mencari pasangan dengan cara di ridai Tuhan SWT